BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

tokoh-tokoh pendidikan islam



PENDAHULUAN
            Latar belakang
            Islam tak lepas dari para tokoh agamanya yang menyebarkan maupun mengembangkan pendidikan islam di dunia ini, dan di Negara kita sendiri terdapat beberapa tokoh penddikan islam yang jasanya sangat besar dalam perkembangan pendidikan islam
Sekian banyak tokoh pendidikan islam yang ada, baik yang dikenal maupun yang tidak tentunya banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita ambil. Seiring berjalannya waktu, para tokoh yang telah berjasa banyak yang terlupakan, bahkan mereka ajaran dan peran sertanya banyak yang diabaikan. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa tak sepatutnya melupakan jasa-jasa mereka. Bahkan kita harus lebih giat lagi dalam meneruskan visi dan misi mereka. Dalam makalah kali ini  akan mencoba untuk sedikit memaparkan biografi dan peran serta mereka dalam merentaskan kebodohan .

Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Apakah pengertian dari pendidikan Islam
2.      Siapakah tokoh-tokoh pendidikan Islam di Indonesia
3.      Siapakah tokoh-tokoh pendidikan Islam di luar Indonesia





PEMBAHASAN
Tokoh-Tokoh Pendidikan Islam

a.      Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mengubah seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak berakhlak menjadi berakhlakul karimah. Pengertian pendidikan islam secara bahasa artinya “tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib”. Ketiga istilah ini mengandung makna yang mendalam menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain, sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan islam informal, formal dan non formal.[1]

Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaan.

Pendidikan islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya, sesuai dengan cita-cita islam karena nilai-nilai islam telah menjiwai kepribadian seseorang dan mempedomani kehidupan manusia muslim dalam aspek duniawi dan ukhrawi.[2]

Ahmad D. Marimba (1980:45) mengartikan pendidikan islam sebagai usaha untuk membimbing keterampilan jasmaniah dan rohaniah berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran islam. [3]

            Pendidikan menjadi bagian utama dalam pendidikan Islam (zuhairini dkk., 2004:152). Oleh sebab itu hakikat pendidikan islam dapat di artikan secara praktis sebagai hakikat pengajaran Al-Qur’an dan As-Sunah.[4]
            Jadi, ilmu pendidikan islam adalah kumpulan pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dijadikan landasan pendidikan.
            Hasan Langgulung (1980:23) mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang memiliki empat fungsi macam, yaitu:
1.      Fugsi edukatif, artinya mendidik dengan tujuan memberikan ilmu pengetahuan kepada aak didik agar terbebas dari kebodohan
2.      Fungsi pengembangan kedewasaan berpikir melalui proses transmisi ilmu pengetahuan
3.      Fungsi penguatan keyakinan terhadap kebenaran yang diyakini pemahaman ilmiah
4.      Fungsi ibadah sebagai pengabdian sang pencipta yang telah mengangerahkan kesempurnaan jasmani dan rohani kepada manusia[5]







b.      Tokoh-Tokoh Pendidikan Islam

1.            Ibnu Miskawaih
Nama lengkap beliau adalah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’kub Ibn Miskawaih. Ia lahir pada tahun 320 H/932 M. di Rayy, dan meninggal di Isfahan pada tanggal 9 shoffar tahun 412 H/16 Februari 1030 M. Ia hidup pada masa pemerintahan dinasti Buaihi (320-450 H/932-1062 M) yang sebagian besar pemukanya bermazhab Syi’ah.
Pada dasarnya untuk memahami pemikiran Ibn Miskawaih tentunya tidak bisa dilepaskan dari konsepnya tentang manusia dan akhlak. Berikut uraiannya :
a.        Konsep Manusia
Ibnu Miskawaih memandang bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki macam-macam daya. Yaitu :
1.      Daya nafsu (Sebagai daya terendah yang berasal dari unsur materi)
2.      Daya berani (Sebagai daya tengah yang juga berasal dari unsur materi )
3.      Daya berpikir (Sebagai daya tertinggi yang berasal dari ruh Tuhan)
            Dari beberapa pembagian tentang manusia tersebut, ibn Miskawaih mempunyai pandangan bahwa daya nafsu dan daya berani akan hancur bersama badan, akan tetapi daya berpikir tidak akan pernah mengalami kehancuran.

b.      Konsep Akhlak
            Konsep akhlak yang di tawarkan oleh Ibn Miskawaih lebih di dasarkan pada doktrin jalan tengah. Dengan pengertian bahwa jalan tengah adalah dengan keseimbangan, moderat, harmoni, utama, atau posisi tengah di antara dua ekstrem.    Akan tetapi Ibn Miskawaih lebih menitik beratkan pada posisi tengah antara ekstrem kelebihan dan ekstrem kekurangan masing-masing jiwa manusia. Dari keterangan di atas dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa ibn Miskawaih lebih memberi tekanan pada pribadi.

            Menurut Ibn Miskawaih, jiwa manusia dibagi menjadi menjadi tiga, yakni:
1.      al-bahimiyyah, yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat
2.       al-ghadabiyah, yaitu kebernian yang diperhitungkan dengan masak untung ruginya.
3.       an-nathiqah. Yaitu kebijaksanaan.
            Ibn Miskawaih menegaskan bahwa setiap keutamaan memiliki dua sisi yang ekstreem. Yang tengah bersifat terpuji dan yang ekstrem bersifat tercela.

2.      Al-Qabisi
Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Muhammad Khalaf al-ma’rifi al-Qabisi. Ia lahir di Kairawan, Tunisia, pada bulan Rajab, tahun 224 H. Bertepatan dengan 13 Mei tahun 936M. Ia pernah merantau ke beberapa negara timur tengah pada tahun 553 H/963 M. Selama 5 tahun, kemudian kembali ke negeri asalnya dan meninggal dunia pada tanggal 3 rabi’ul awal 403 H. Selain ahli dalam bidang hadits dan fikih, Al-Qabisi juga di kenal ahli dalam pendidikan.
3.   Al-Mawardi
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ali Ibn Muhammd Ibn Habib Al-Basyri. Ia dilahirkan di Basyrah pada tahun 364 H. Bertepatan dengan tahun 974 M. Beliau wafat di Baghdad pada tahun 450 H / 1058 M.
Pemikiran Al-Mawardi dalam bidang pendidikan sebagian besar terkonsentrasikan pada masalah etika hubungan antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Dalam pandangan Al-Mawardi, seorang guru yang memiliki sikap tawadu (rendah hati) serta menjauhi sikap ujud (besar kepala).


Selanjutnya, selain sikap tawadlu juga harus bersikap ikhlas serta mencintai tugas-tugasnya sebagai seorang guru. Al-Mawardi juga melarang seorang mengajar dan mendidik atas dasar motif ekonomi. Dalam pandangannya, mengajar dan mendidik merupakan aktivitas keilmuan dan tidak dapat disejajarkan dengan materi.
4.      Ibnu Sina
Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Al-Husayn Ibn Abdullah. Beliau lahir pada tahun 370 H / 980 M di Afshana, suatu daerah yang terletak di dekat Bukhara, di kawasan Asia tengah. Ayahnya bernama Abdullah dari Balkh, Suatu kota termasyhur dikalangan orang-orang Yunani.
Menurut ibn Sina, tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu, pendidikan harus mampu untuk mempersiapkan seseorang untuk dapat hidup bermasyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yang dimilikinya.
Khusus mengenai pendidikan yang bersifat jasmani, hendaknya pendidikan tidak melupakan pembinaan fisik dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya seperti olahraga, makan, minum, tidur dan menjaga kebersihan.
Tampaknya, sekilas tentang tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh ibn Sina didasarkan pada pandangan tentang insan kamil (manusia sempurna). Yaitu manusia yang terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan menyeluruh.



5.      Al-Ghozali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghozali. Ia dilahirkan di Thus, sebuah kota di Khurasan, Persia, pada tahun 450 H / 1058 M. Konsep pendidikan yang di tawarkan oleh Al-Ghozali meliputi tujuan pendidikan, kurikulum, metode, etika guru dan murid
6.      Burhanuddin Az-Zarnuji
Nama lengkapnya adalah Burhanuddin Al-Islam Azzarnuji. Dikalangan ulama’ belum ada kepastian mengenai tanggal kelahirannya. Adapun mengenai wafatnya ada dua pendapat yang dapat dikemukakan. Pertama, Burhanuddin Azzarnuji wafat pada tahun 591H / 1195 M. Kedua, ia wafat pada tahun 840 H / 1243 M.
Konsep yang dikemukakan Azzarnuji secara monumental dituangkan dalam karyanya Ta’lil Al-Muta’allim Thuruq Al-Ta’allum. Dari kitab tersebut dapat diketahui tentang konsep pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Az-Zarnuji
7.      Ibnu Jama’ah
Konsep pendidikan yang di kemukakan oleh Ibn Jama’ah secara keseluruhan dituangkan dalam karyanya Tadzkirat as-Sami’ Wa Al-mutakallimin fi adab al-Alim wa al-Muta’allimin. Di dalam buku tersebut ibn Jama’ah mengemukakah tentang keutamaan ilmu pengetahuan dan orang-orang yang mencarinya serta etika orang yang berilmu termasuk para pendidik ; kewajiban guru terhadap peserta didik, mata pelajaran, etika peserta didik, etika dalam menggunakan literatur serta etika tempat tinggal bagi para guru dan murid



8.      Ibnu Taimiyah
Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Ahmad bin Abd al-Halim bin Taimiyyah. Beliau lahir di kota Harran, wilayah Syiria, pada hari senin 10 rabi’ul awal 661 H/22 Januari 1263. Dan wafat di Damaskus pada malam senin, 20 Zulkaidah, 728 Hijriah/26 September 1328M. Ayahnya bernama Syihab ad-Din ‘Abd al-Halim Ibn as-Salam (627-672H). adalah seorang ulama besar yang mempunyai kedudukan tinggi di Masjid Agung Damaskus.
Pemikiran Ibn Taimiyah dalam bidang pendidikan dapat dibagi ke dalam pemikirannya dalam bidang falsafah pendidikan, tujuan pendidikan, kurikulum dan hubungan pendidikan dengan kebudayaan. Tentunya, pemikiran tersebut di bangun berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits.[6]
c.        Tokoh-tokoh Pendidikan Islam Di Indonesia
Adapun tokoh-tokoh pendidikan Islam di Indonesia antara lain:
1)    Kyai Haji Ahmad Dahlan (1869-1923)
            K.H Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 M dengan nama kecilnya Muhammad Darwis, putra dari K.H Abu Bakar Bin Kyai Sulaiman, khatib di Masjid besar (Jami’) kesultanan Yogyakarta. Ibunya adalah putri Haji Ibrahim, seorang penghulu Setelah beliau menamatkan pendidikan dasarnya di suatu Madrasah dalam bidang Nahwu, Fiqih dan Tafsir di Yogyakarta beliau pergi ke Makkah pada tahun 1890 dan beliau menuntut ilmu disana selama satu tahun. Salah seorang gurunya Syekh Ahmad Khatib. Sekitar tahun 1903 beliau mengunjungi kembali ke Makkah dan kemudian menetap di sana selama dua tahun[7]
            Beliau adalah seorang yang alim luas ilmu pengetahuanya dan tiada jemu-jemunya beliau menambah ilmu dan pengalamanya. Dimana saja ada kesempatan sambil menambah atau mencocokan ilmu yang telah diperolehnya. Observation lembaga pernah beliau datangi untuk mencocokan tentang ilmu hisab. Beliau ada keahlian dalam ilmu itu. Perantauanya kelauar pulau jawa pernah sampai ke Medan. Pondok pesantren yang besar-besar di Jawa pada waktu itu banyak dikunjungi.
            Cita-cita K.H Ahmad Dahlan sebagai seorang ulama adalah tegas, beliau hendak memperbaiki masyarakat Indonesia berlandaskan cita-cita agama Islam. Usaha-usahanya ditujukan hidup beragama, keyakinan beliau ialah bahwa untuk membangun masyarakat bangsa harus terlebih dahulu dibangun semangat bangsa. K.H Ahmad Dahlan pulang ke Rahmatullah pada Tahun 1923 M Tanggal 23 Pebruari dalam usia 55 Tahun dengan meninggalkan sebuah organisasi Islam yang cukup besar dan di segani karena ketegaranya.
2)    K.H Hasim Asy’ari (1971-1947)
            K.H Hasim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 14 Februari tahun 1981 M di Jombang Jawa Timur mula-mula beliau belajar agama Islam pada ayahnya sendiri K.H Asy’ari kemudian beliau belajar di pondok pesantren di Purbolinggo, kemudian pindah lagi ke Plangitan Semarang Madura dan lain-lain.[8]
            Sewaktu beliau belajar di Siwalayan Panji (Sidoarjo) pada tahun 1891, K.H Ya’kub yang mengajarnya tertarik pada tingkahlakunya yang baik dan sopan santunya yang harus, sehingga ingin mengambilnya sebagai menantu, dan akhirnyabeliau dinikahkan dengan putri kiyainya itu yang bernama Khadijah (Tahun 1892). Tidak lama kemudian beliau pergi ke Makkah bersama istrinya untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim selama setahun, sedang istrinya meninggal di sana.
            Pada kunjunganya yang kedua ke Makkah beliau bermukim selama delapan tahun untuk menuntut ilmu agama Islam dan bahasa Arab. Sepulang dari Makkah beliau membuka pesantren Tebuiring di Jombang (pada tanggal 26 Rabiul’awal tahun 1899 M)
            Jasa K.H Hasim Asya’ari selain dari pada mengembangkan ilmu di pesantren Tebuireng ialah keikutsertaanya mendirikan organisasi Nahdatul Ulama, bahkan beliau sebagai Syekul Akbar dalam perkumpulan ulama terbesar di Indonesia.
            Sebagai ulama beliau hidup dengan tidak mengharapkan sedekah dan belas kasihan orang. Tetapi beliu mempunyai sandaran hidup sendiri yaitu beberapa bidang sawah, hasil peninggalanya. Beliau seorang salih sungguh beribadah, taat dan rendah hati. Beliau tidak ingin pangkat dan jabatan, baik di zaman Belanda atau di zaman Jepang kerap kali beliau deberi pangkat dan jabatan, tetapi beliau menolaknya dengan bijaksana.
            Banyak alumni Tebuiring yang bertebarang di seluruh Indonesia, menjadi Kyai dan guru-guru agama yang masyhur dan ada diantra mereka yang memegang peranan penting dalam pemerintahan Republik Indonesia, seperti mentri agama dan lain-lain (K.H A. Wahid Hasyim, dan K.H Ilyas).
            K.H Asy’ari wafat kerahmatullah pada tanggal 25 Juli 1947 M dengan meninggalkan sebuah peninggalan yang monumental berupa pondok pesantren Tebuiring yang tertua dan terbesar untuk kawasan jawa timur dan yang telah mengilhami para alumninya untuk mengembangkanya di daerah-daerah lain walaupun dengan menggunakan nama lain bagi pesantren-pesantren yang mereka dirikan.

3)    K.H Abdul Halim (1887-1962)
            K.H Abdul Halim lahir di Ciberelang Majalengka pada tahun 1887. beliau adlah pelopor gerakan pembeharuan di daerah Majalengka Jawa Barat yang kemudian berkembang menjadi Perserikatan Ulama, dimulai pada tahun 1911. yang kemudian berubah menjadi Persatuan Umat Islam (PUI) pada tanggal 5 April 1952 M. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga yang taat beragama (ayahnya adalah seorang penghulu di Jatiwangi), sedangkan famili-familinya tetap mempunyai hubungan yang erat secara keluarga dengan orang-orang dari kalangan pemerintah.[9]
            K.H Abdul Halim memperoleh pelajaran agama pada masa kanak-kanak dengan belajra diberbagai pesantren di daerah Majalengka sampai pada umur 22 Tahun. Ketika beliau pergi ke Makkah untuk naik haji dan untuk melanjutkan pelajaranya.
            Pada umumnya K.H Abdul Halim berusaha untuk menyebarkan pemikiranya dengan toleransi dan penuh pengertian. Dikemukakan bahwa beliau tidak pernah mengecam golongan tradisi ataupun organisasi lain yang tidak sepaham dengan beliau, tablignya lebih banyak merupakan anjuran untuk menegakan etika di dalam masyarakat dan bukan merupak kritik tentang pemikiran ataupun pendapat orang lain.
            Pada tanggal 7 Mei 1962 K.H Abdul Halim pulang kerahmatullah di Majalengka Nawa Barat dalam usia 75 Tahun dan dalam keadaan tetap teguh berpegang pada majhab Safi’i.


PENUTUPAN
          Kesimpulan
            Sesungguhnya pendidika yang kita laksanakan sekarang ini tidaklah terlepas dari usaha-usaha para tokoh pendidikan yang dahulu telah merintisnya dengan perjuanga yang sanggat berat dan tidak mengenal lelah. Oleh karena itu bila kita berbicara tentang pendidikan yang kini berlangsung tidaklah arif bila tidak membicarakan sosok dan tokoh pendidikan tersebut, dengan hanya menerima jerih payah dan karya mereka.
Dari semua uraian di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa, pendidikan itu sangatlah penting terutama yang namanya pendidikan Islam. Yang di mana pendidikan Islam ini sangatlah dianjurkan bahkan diwajibkan bagi tiap-tiap muslim.
Dalam perkembangannya di seluruh dunia banyaklah terdapat tokoh-tokoh yang terkemuka dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan Islam ini. Semua mempunyai pemikiran-pemikiran tersendiri, namun semuanya itu tetaplah mengarah dan mengacu kepada Al-Qur’an dan Hadits.
Selain itu juga ternyata pendidikan Islam ini, tidak hanya mencakup masalah ke agamawan saja tetapi semua ilmu pengetahuan terdapat di dalamnya.       

Saran-saran
Dalam makalah ini, kami menyarankan agar pendidikan islam ini hendaknya ditanamkan secara mendasar dan kokoh kepada diri kita masing-masing, agar sebagai umat Islam kita menjadi umat yang kokoh dan menyatu serta dapat senantiasa menjawab perkembangan zaman yang semakin pesat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M .1994.  Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara
Aziz . 2008. 99 Kyai Kharismatik Indonesia, Yogyakarta: Kutub
Basri, Hasan. Filsafat pendidikan Islam,bandung: PT Pustaka Setia
Hasbullah.1996.  dasar-dasar ilmu pendidikan, Jakarta:PT Raja Grafindo

PersadaMasyuri, Jalaluddin.2001. Teologi Pendidikan ,Jakarta: Raja Grasindo        Persada

Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam : Pendidikan historis, teoritis,         Jakarta: Ciputat Pers


                [1] Jalaluddin, Teologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grasindo Persada, 2001).
                [2] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1994).
                [3] Hasan Basri, Filsafat pendidikan Islam (bandung: PT Pustaka Setia) hlm.13
                [4] ibid
                [5] . ibid, hlm.13
                [6]  Hasan Basri, Filsafat pendidikan Islam (bandung: PT Pustaka Setia) hlm.221-243
                [7] Hasbullah, dasar-dasar ilmu pendidikan, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada), hlm.270
                [8] Aziz Masyuri, 99 Kyai Kharismatik Indonesia, (Yogyakarta: Kutub, 2008),  h. 210-211
                [9] . Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam : Pendidikan historis, teoritis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002) hlm. 204

1 comment:

  1. salam kenalll.... q pgen nambah tmen,,, mampir donk ke blok aq hairilputra.blogspot.com

    ReplyDelete